Oleh: 88anang | Agustus 13, 2010

Pasukan Khusus

Sejarah mencatat bahwa dalam peperangan, tidak selamanya kekuatan pasukan yang besar bisa memenangkan pertempuran ataupun peperangan. Sejarah mencatat pula, kadang dengan pasukan yang berjumlah sedikit (dengan taktik dan strategi berbeda tentunya) bisa memenangkan suatu pertempuran. Pasukan Nazi Jerman pada Perang Dunia kedua bisa jadi salah satu contoh. Betapa hanya dengan bertumpu pada pasukan tank dan strategi yang sedikit berbeda, pasukan Nazi dengan cepat bisa menaklukkan Polandia. Takluknya Polandia pada Nazi Jerman dalam waktu yang sangat cepat ini mengawali Perang Dunia kedua.

Perang Dunia kedua diakui telah melahirkan suatu pemahaman baru dalam peperangan. Dalam hal strategi, misalnya, Perang Dunia kedua mengubah cara pandang banyak pihak tentang medan pertempuran. Diantara perubahan-perubahan pemahaman tentang perang/pertempuran adalah perubahan pola pertempuran dari pertempuran kubu yang mengandalkan parit-parit perlindungan menjadi pertempuran terbuka yang dinamis. Pertempuran kubu sifatnya lebih banyak bertahan menjaga benteng-benteng pertahanan masing-masing. Karena karakternya yang bertahan tersebut gerak pertempuran ini sangatlah lambat.

Disisi lain pertempuran terbuka sifatnya sangat mobil. Karena itu diperlukan adanya pasukan yang bisa bergerak cepat dan efisien sehingga bisa memotong pergerakan pasukan musuh, mengurungnya, dan kemudian menghantamnya. Gerak cepat, efektif, dan tepat sasaran hanya bisa dilakukan oleh unit kecil pasukan yang memiliki kemampuan tinggi.

Kebutuhan unit pasukan yang bisa bergerak cepat, efektif, dan tepat sasaran ini melahirkan adanya pembentukan pasukan khusus. Menurut pengertiannya, pasukan khusus adalah unit pasukan kecil yang bergerak secara rahasia, dengan cara-cara dan dalam medan yang tidak konvensional, serta beresiko tinggi. Unit pasukan ini dirancang untuk melakukan operasi-operasi rahasia yang fital namun minim publikasi.

Penyusupan, serangan mendadak, dan kerahasiaan, menjadi ciri utama dari unit pasukan ini, disamping kecepatan mereka dalam menyerang maupun menyelamatkan diri. Tak heran jika akhirnya unit-unit pasukan seperti ini tak jarang bergerak dalam jumlah kecil atau bahkan hampir secara individual.

Selama Perang dunia kedua pihak Jerman dan juga negara-negara yang tergabung dalam sekutu berlomba-lomba membentuk unit pasukan khusus ini. Jauh sebelum Perang Dunia kedua, yakni pada Perang Dunia pertama, Italia adalah negara yang pertama kali membentuk unit pasukan ini yang dinamai dengan pasukan Arditi yang mempunyai tugas melakukan serangan mendadak dan memutus rantai pertahanan musuh serta mempersiapkan jalan bagi masuknya pasukan infanteri. Pasukan Arditi ini merupakan cikal bakal terbentuknya pasukan khusus.

Pada Perang Dunia kedua lagi-lagi Italia memelopori adanya pasukan khusus dengan memperkuat pasukan angkatan lautnya. Adalah Letnan Muda Teseo Tesei dan Elios Toschi yang mengusulkan rencana dibentuknya pasukan khusus ini. Awalnya kedua letnan muda ini mengajukan rencana membuat torpedo jarak jauh yang bisa dikendarai manusia pada tahun 1935. Torpedo yang digerakkan dengan baterei ini akan dikendarai oleh manusia dan setelah dekat dengan kapal musuh si pengendara harus melepaskan ujung torpedo yang memiliki bahan peledak dan kemudian melekatkannya ke badan kapal musuh. Mengendarai torpedo ini dilakukan oleh pasukan penyelam angkatan laut yang dikemudian hari dikenal dengan pasukan katak.

Kerja pasukan katak Italia ini telah membuat pemimpin pasukan negara Sekutu kalang kabut. Bagaimana tidak. Banyak kapal sekutu yang hancur bukan di dalam peperangan namun justru di pelabuhan maupun di pangkalan militernya. Ini karena ulah pasukan katak Italia yang berhasil masuk dan menerobos barikade pertahanan kapal-kapal negara Sekutu dan meledakkannya. Salah satu keberhasilan yang menonjol adalah menerobos pelabuhan Gilbrartar di Spanyol yang pertahanannnya terkenal sangat kuat. Tiga kapal perang Inggris yang sedang berlabuh berhasil ditenggelamkan. Hebatnya tidak ada seorang pun pasukan katak Italia yang tewas.

Jerman juga tak mau kalah. Unit-unit kecil pasukan Jerman berhasil menerobos benteng pertahanan musuh dan sukses melakukan penghancuran. Diantaranya adalah keberhasilan merebut benteng Fort Eben-Emel di Belgia yang terkenal dengan pertahanannya yang ketat. Dengan jumlah pasukan kurang dari 100 orang prajurit, benteng ini berhasil direbut. Pasukan payung angkatan udara Jerman yang melakukan penyerbuan dibawah komando Letnan Rudolf Witzig.

Banyaknya keberhasilan pasukan Jerman dan Italia dalam menaklukkan pertahanan musuh memaksa negara-negara Sekutu juga membentuk unit pasukan khusus. Pada tahun 1941 seorang opsir Inggris bernama David Striling memelopori pendirian dan pembentukan Special Air Service (SAS) suatu resimen penyerbu yang tugas utamanya melakukan sabotase dan merusak suplai logistik tentara Jerman khususnya di gurun Afrika Utara. Namun kesuksesan pasukan SAS ini adalah ketika bertugas di Eropa yaitu saat melakukan penyusupan ke pangkalan udara jerman dan berhasil menghancurkan 61 pesawat Jerman. Disamping berhasil menghancurkan pesawat Jerman, pasukan SAS Inggris juga berhasil menghancurkan kendaraan tempur dan merusak rel kereta api untuk memotong jalur transportasi pasukan Jerman.

Keberhasilan SAS ini akhirnya juga menginspirasi negera-negara Sekutu lain untuk membentuk pasukan semacam. Tahun 1942 Amerika Serikat membentuk pasukan Ranger yang disusul pembentukan unit-unit pasukan lainnya. Selanjutnya Belgia membentuk unit pasukan khusus pada tahun 1947. Perancis membentuk pasukan khusus pada awal 1950-an dan Belanda juga pada tahun 1950-an.

Karena merupakan pasukan yang sifatnya khusus maka model organisasi, pola rekrutmen dan standar kualifikasi berbeda dengan pasukan reguler. Model organisasi pasukan ini, khususnya struktur organisasinya, berada diluar struktur organisasi ketentaraan yang telah ada (reguler). Nomenklatur biasanya tidak mengacu pada nomenklatur baku ketentaraan yang ada. Karena sifat tugasnya yang khusus maka pola rekrutmen dan standar kualifikasi pasukan ini juga berbeda dengan pola rekrutmen dan standar kualifikasi pasukan reguler. Khusus untuk standar kualifikasi biasanya perekrutan pasukan ini diambil dari tentara yang mempunyai kecakapan-kecakapan khusus yang disesuaikan dengan kebutuhan ketugasannya.

Pasukan khusus di Indonesia

Sejarah pembentukan pasukan khusus di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari situasi refolusi fisik (perang kemerdekaan). Ditengah situasi mempertahankan kemerdekaan dari infasi tentara Belanda dan konsolidasi angkatan perang, disaat itu pula muncul gerakan-gerakan pemberontakan di daerah yang intinya adalah ingin melepaskan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dalam upaya mempertahankan kemerdekaan serta menumpas pemberontakan maka pembentukan unit pasukan kecil yang tangguh menjadi suatu kebutuhan.

1) Korps Marinir/KKO (Korps Komando)
Secara historis pasukan marinir merupakan sebuah unit dalam angkatan laut yang memiliki kemampuan dalam mengemban tugas-tugas seperti layaknya pasukan infanteri. Pasukan marinir merupakan pasukan khusus yang melaksanakan misi-misi pendaratan, penyusupan, dan infiltrasi rahasia ke pantai musuh. Pasukan ini bertugas merebut dan mempertahankan wilayah pantai, menyusup dan menyiapkan kondisi untuk pendaratan pasukan utama atau melaksanakan tugas-tugas lain yang tidak konvensional. Dalam bertugas pasukan marinir ini, layaknya pasukan khusus lain, diturunkan dalam unit-unit kecil yang mengedepankan unsur kerahasiaan dan pendadakan.

Sebagai bagian dari angkatan laut, korps marinir merupakan andalan angkatan laut dalam penyelenggaraan operasi amfibi dan anti amfibi, serta tugas-tugas operasi lainnya. Secara garis besar tugas-tugas korps marinir dikategorikan menjadi dua macam yaitu ofensif dan defensif. Secara ofensif korps marinir berperan sebagai kekuatan pemukul dan pendarat TNI Angkatan Laut dalam merebut menghancurkan pertahanan pantai musuh. Secara defensif korps ini bertugas sebagai kekuatan gerak cepat dalam situasi darurat untuk menahan laju invasi musuh di sepanjang garis pantai, mempertahankan obyek fital, atau bertugas melaksanakan tugas-tugas pertahanan negara lainnya.

Keberadaan Korps Marinir dalam Angkatan Laut Republik Indonesia sudah eksis sejak berkecamuknya perang merebut kemerdekaan. Setelah Proklamasi 17 Agustus 1945 dikumandangkan, pada tanggal 22 Agustus 1945 Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia membentuk tiga badan yaitu Komite Nasional Indonesia, Party Nasional Indonesia dan Badan Penolong Keluarga Korban Perang (BPKKP). Dalam lingkungan BPKKP inilah dibentuk satu badan keamanan yang dinamakan Badan Keamanan Rakyat (BKR). Bagi pelaksanaan tugas keamanan dan ketertiban di pantai, lautan dan daerah-daerah pelabuhan dibentuk BKR Laut yang didirikan pada 10 September 1945.

Pada 5 Oktober 1945 Presiden mengeluarkan maklumat tentang pembentukan Tentara Keamanan Rakyat di mana BKR menjadi inti TKR. Dengan demikian BKR Laut pun berubah menjadi TKR Laut. TKR ini kemudian berkembang menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI).

Pada 15 Nopember 1945 tercantum dalam Pangkalan IV ALRI Tegal nama Corps Mariniers (tanggal ini selanjutnya dijadikan sebagai hari lahir Korps Marinir). Selanjutnya berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertahanan No. A/565/1948 pada tanggal 9 Oktober 1948 ditetapkan adanya Korps Komando di dalam jajaran Angkatan Laut. Korps Komando Angkatan Laut (KKO AL) kembali menggunakan nama Korps Marinir sesuai dengan Surat Keputusan Kepala Staf Angkatan Laut No. Skep/1831/XI/1975 tanggal 15 Nopember 1975.

Seiring dengan berkembangnya jaman terutama untuk menuju terbentuknya organisasi militer yang modern dan profesional, Korps Marinir baik secara organisatoris maupun pembinaan kekuatannya mengalami beberapa perubahan. Perubahan yang dimaksud antara lain mulai dari penyebutan unsur kekuatan, likuidasi beberapa satuan, penambahan kekuatan satuan baik di lingkup Komando Pelaksana (Kolak) maupun Satuan Pelaksana (Satlak) hingga ke tingkat pola pembinaan personel atau pengawak organisasi.

Di bidang organisasi, perubahan terakhir terjadi pada tahun 2004 di mana terbentuk kekuatan baru di jajaran Kolak Korps Marinir yakni dengan terbentuknya Pasmar-II dan Brigif-3 Marinir.

Di masa mendatang, kekuatan Korps Marinir akan terus dikembangkan hingga mencapai bentuk yang ideal baik dari segi kualitas maupun kuantitas personel termasuk peralatan tempurnya.

2) Korps Pasukan Khas TNI Angkatan Udara (Paskhas TNI AU)
Korps Pasukan Khas TNI AU, disingkat Korpaskhasau, merupakan pasukan (khusus) yang dimiliki TNI AU. Sama seperti satuan lainnya di TNI AD dan TNI AL, Paskhas merupakan satuan tempur darat berkemampuan tiga matra: laut, darat, udara. Hanya saja dalam operasi, tugas dan tanggungjawab, Paskhas lebih ditujukan untuk merebut dan mempertahankan pangkalan udara dari serangan musuh, untuk selanjutnya menyiapkan bagi pendaratan pesawat teman. Kemampuan satu ini disebut Operasi Pembentukan dan Pengoperasi Pangkalan Udara Depan (OP3UD).

Sejarah Paskhas sebagai pasukan payung pertama hampir setua Republik Indonesia ini. Operasi penyusupan lewat udara oleh 14 paratroops pada 17 Oktober 1947 di Kotawaringin, Kalimantan, ditandai sebagai hari keramat kelahiran Paskhas. Di awal usia TNI AU (lahir 9 April 1946), pasukan payung ini disebut Pasukan Pertahanan Pangkalan (PPP). April 1952, kekuatan AURI diperkuat dengan dibentuk lagi Pasukan Gerak Tjepat (PGT).
Hingga pada tahun tersebut, pasukan TNI AU terdiri dari PPP, PGT dan PSU (Penangkis Serangan Udara). Lebih lanjut pada 15 Oktober 1962, dibetuk Komando Pertahanan Pangkalan Angkatan Udara (KOPPAU) yang membawahi resimen PPP dan PGT. Pergantian KOPPAU menjadi Kopasgat (Komando Pasukan Gerak Tjepat) disahkan pada 17 Mei 1966. Saat itu kekuatan Kopasgat mencapai tiga resimen (Bandung, Jakarta, Surabaya). Adapun perubahan menjadi Pusat Pasukan Khas disahkan pada 11 Maret 1985 sebelum akhirnya menjadi Korpaskhasau lewat Surat Keputusan Panglima ABRI tertanggal 7 Juli 1997.

Paskhas saat ini berkekuatan 3.000 personel. Terbatasnya dukungan dana dari pemerintah memang jadi kendala untuk memodernisasi Paskhas. Dari segi persenjataan saja, prajurit Paskhas hanya mengandalkan persenjataam macam senapan serbu SS-1 dan senapan mesin ringan Scorpion sebagai perlengkapan unit anti teroris Detasemen Bravo.

Namun begitu, rencana mengembangkan Paskhas menjadi 10 Skadron dengan jumlah personel dua kali lipat dari sekarang, tetap menjadi ‘energi’ bagi Paskhas untuk terus membenahi diri. Setidaknya sampai saat ini, pola penempatan Paskhas masih mengikuti pola penggelaran alutsista TNI AU, dalam hal ini pesawat terbang. Dengan kata lain, di mana ada skadron udara, di situ (idealnya) mesti ada skadron Paskhas sebagai unit pengamanan pangkalan.

3) Komando Pasukan Khusus TNI Angkatan Darat (Kopassus)
Kopassus merupakan salah satu unit militer dalam angkatan bersenjata Indonesia yang bertugas sebagai pasukan pemukul. Secara khusus Kopassus bertugas melakukan infiltrasi, pengintaian, dan pelatihan milisi di belakang garis pertahanan musuh, serta bertugas dalam operasi-operasi anti subversi dan pemulihan keamanan dalam negeri. Salah satu hal yang menjadi tujuan utama Kopassus adalah memiliki elemen yang bisa disiagakan dan diturunkan dalam operasi dalam waktu lima belas menit.

Untuk menjalankan tugas dan fungsinya secara sempurna dan menyeluruh, Kopassus mengorganisasikan diri dalam struktur yang rapi, efektif, dan efisien. Selain itu, dengan sistem organisasi yang rapi Kopassus juga diharapkan bisa mengatur rotasi para anggotanya. Dengan sistem rotasi yang teratur, soliditas dan efektifitas Kopassus bisa tetap terjaga.

Sejarah pembentukan pasukan elit TNI Angkatan Darat ini dimulai pada tanggal 16 April 1952 saat Kolonel A.E Kawilarang mendirikan Kesatuan Komando Tentara Territorium III/Siliwangi (Kesko TT).  Ide dasar pembentukan kesatuan komando ini bermula dari pengalaman Kolonel Kawilarang dan Letkol Slamet Riyadi dalam menumpas gerakan Republik Maluku Selatan (RMS) di Maluku.  Bersama dengan Letnan Kolonel Slamet Riyadi (Brigjen Anumerta) mereka berdua merasa kesulitan menghadapi pasukan komando RMS mengingat banyak dari anggota RMS adalah bekas tentara KNIL kerajaan Belanda.

Sebenarnya ide pembentukan pasukan ini berasal dari Letkol Slamet Riyadi yang mengusulkan kepada Kolonel Kawilarang untuk membentuk suatu unit pasukan yang minimalis secara kuantitas tapi optimal dalam hal kualitas. Pasukan tersebut diharapkan dapat bergerak dengan cepat, senyap, dan sunyi untuk menjalankan misi-misi penyusupan, infiltrasi, sabotase, atau pembinaan milisi di dalam garis pertahanan musuh. Sayang belum sempat ide tersebut terealisasi Letkol Slamet Riyadi gugur terlebih dahulu karena tertembak oleh penembak jitu tentara RMS dalam peristiwa perebutan benteng Victoria di Ambon.

Komandan pertama saat pasukan ini adalah Idjon Djanbi yang merupakan mantan Kapten KNIL Belanda kelahiran Kanada.  Idjon Djanbi semula nama aslinya adalah Rokus Bernardus Visser dan pangkatnya saat desersi dari tentara KNIL adalah Kapten. Pada tahun 1953 tepatnya tanggal 9 Februari 1953, Kesko TT dialihkan dari Siliwangi dan langsung berada di bawah kendali Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD).

Dalam sejarah perkembangannya, pasukan ini mengalami beberapa perubahan dikarenakan untuk menyesuaikan kebutuhan dan perkembangan jaman. Setelah diambil alih Markas besar TNI dari komando Siliwangi, unit pasukan ini diubah namanya menjadi Korps Komando Angkatan Darat (KKAD). Ini terjadi pada tanggal 18 Maret 1953. Sesuai perkembangan dan adanya kebutuhan, KKAD ditingkatkan menjadi Resimen Pasukan Komando Angkatan Darat (RPKAD) pada tanggal 25 Juli 1955. Selanjutnya pada tahun 1959 kepanjangan RPKAD diubah menjadi Resimen Para Komando Angkatan Darat. Saat pengubahan ini RPKAD dipimpin oleh Mayor Kaharuddin Nasution. Dan pada tanggal 12 Desember 1966 RPKAD berubah menjadi Pusat Pasukan Khusus AD (Puspassus AD) yang bertahan selama 5 tahun.

Sampai dengan tahun 1963, RPKAD terdiri dari dua batalyon, yaitu batalyon 1 dan batalyon 2, kesemuanya bermarkas di Jakarta. Ketika, batalyon 1 dikerahkan ke Lumbis dan Long Bawan, saat konfrontasi dengan Malaysia, sedangkan batalyon 2 juga mengalami penderitaan juga di Kuching, Malaysia, maka komandan RPKAD saat itu, Letnan Kolonel Sarwo Edhie -karena kedekatannya dengan Panglima Angkatan Darat, Letnan Jenderal Ahmad Yani, mengusulkan 2 batalyon ‘Banteng Raider’ bentukan Ahmad Yani ketika memberantas DI/TII di Jawa Tengah di upgrade di Batujajar, Bandung menjadi Batalyon di RPKAD, masing-masing Batalyon 441″Banteng Raider III”, Semarang ditahbiskan sebagai Batalyon 3 RPKAD di akhir tahung 1963. Menyusul kemudian Batalyon Lintas Udara 436 “Banteng Raider I”, Magelang menjadi Batalyon 2 menggantikan batalyon 2 lama yang kekurangan tenaga di pertengahan 1965. Sedangkan Batalyon 454 “Banteng Raider II” tetap menjadi batalyon di bawah naungan Kodam Diponegoro. Batalyon ini kelak berpetualang di Jakarta dan terlibat tembak menembak dengan Batalyon 1 RPKAD.

Pada tanggal 17 Februari 1971 Resimen Para Komando Angkatan Darat diubah namanya menjadi Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopassandha). Tugas pertama pasukan Kopassandha ini adalah operasi di Timor Timur. Pasukan ini memainkan peran sejak awal. Mereka melakukan operasi khusus guna mendorong integrasi Timtim ke dalam negara Indonesia. Pada tanggal 7 Desember 1975 pasukan Kopassandha ini diterjunkan ke Dili. Tugas utamanya adalah mengamankan lapangan udara. Sementara Angkatan Laut dan Angkatan Udara mengamankan kota. Semenjak saat itu peran pasukan ini terus berlanjut dan membentuk sebagian dari keuatan udara yang bergerak untuk memburu dan menangkap tokoh-tokoh Fretilin.

Prestasi yang juga mengharumkan nama Kopassandha adalah saat melakukan operasi pembebasan sandera yaitu para awak dan penumpang pesawat DC-9 Woyla Garuda Indonesian Airways di di Bandara Udara Don Muang Bangkok Thailand yang dibajak oleh lima orang yang mengaku berasal dari kelompok ekstremis Komando jihad dengan pimpinannya Imran bin Muhammad Zein. Operasi pembebasan ini berlangsung pada tanggal 28 Maret 1981. Pimpinan operasi Kopassandha ini saat itu adalah Letkol Sintoong Panjaitan.

Dengan adanya reorganisasi di tubuh Angkatan Bersenjata Republik Indonesia atau ABRI (saat itu), sejak tanggal 26 Desember 1986 Kopassandha namanya berubah menjadi Komando Pasukan Khusus atau Kopassus. Nama ini bertahan hingga kini. ABRI selanjutnya melakukan penataan kembali terhadap grup di kesatuan Kopassus. Sehingga wadah kesatuan dan pendidikan digabungkan menjadi Grup 1, Grup 2, Grup 3/Pusdik Pasuss, serta Detasemen 81. Pada tanggal 25 Juni 1996 Kopassus melakukan reorganisasi dan pengembangan grup yang semula terdiri dari tiga grup menjadi lima grup, yaitu :
§    Grup 1/Parakomando — berlokasi di Serang, Propinsi Banten;
§    Grup 2/Parakomando — berlokasi di Kartasura, Propinsi Jawa Tengah;
§    Grup 3/Pusat Pendidikan Pasukan Khusus — berlokasi di Batujajar, Prop. Jawa barat
§    Grup 4/Sandhi Yudha — berlokasi di Cijantung, Jakarta Timur
§    Grup 5/Anti Teror — berlokasi di Cijantung.
Detasemen 81, unit anti teroris Kopassus, ditiadakan dan diintegrasikan ke grup-grup tadi. Sebutan bagi pemimpin Kopassus juga ditingkatkan dari Komandan Kopassus yang berpangkat Brigadir Jendral menjadi Komandan Jendral (Danjen) Kopassus yang berpangkat Mayor Jendral bersamaan dengan reorganisasi ini.

Sumber :
1. http://www.marinir.mil.id/sejarah.php;
2. id.wikipedia.org/wiki/Komando_pasukan_khusus;
3. id.wikipedia.org/wiki/Korps_pasukan_khas;
4. Indonesian Special Force : Pasukan Khusus Indonesia, Ibrahim Ipung, Mata Padi Presindo 2010, Yogyakarta;
5. http://www.angkasa-online.com/12/04/buku/buku1.htm


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: