Oleh: 88anang | Agustus 3, 2010

Beberapa hal mengenai puasa (Ramadhan)



Segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam. Maha Suci Allah. Dia tepat bergantung. Kami memuji, meminta pertolongan dan ampunan kepada-Nya. Dan kami juga meminta perlindungan-Nya dari keburukan jiwa-jiwa kami serta keburukan perbuatan kami. Barang siapa yang Allah beri petunjuk, tidak ada yang dapat menyesatkannya dan barang siapa yang disesatkan-Nya, tidak ada yang dapat menunjukinya.

Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah semata yang tidak memiliki sekutu, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya. Sholawat dan salam semoga dilimpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw. beserta keluarga dan sahabat-sahabat beliau hingga akhir zaman.

Beberapa saat lagi kita akan memasuki bulan Ramadhan. Bulan suci yang penuh berkah, bulan maghfirah penuh ampunan. Bulan saat pintu surga dibuka dan pintu neraka ditutup. Bulan mulia saat Al Qur’an diturunkan.

Puasa atau shaum dalam bahasa Arab ini secara etimologis (kebahasaan) adalah menahan dari segala sesuatu, seperti misalnya menahan -untuk tidak- tidur, menahan -untuk tidak- makan minum, dan lain sebagainya.

Sedangka secara syar’i puasa berarti menahan diri dari sesuatu yang membatalkan puasa sejak terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari dengan niat dan beberapa syarat.

“Makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara ‘benang putih’ dan ‘benang hitam’ yaitu fajar. (QS. Al Baqarah : 187)

Dari Ibnu ‘Umar, katanya : Saya telah mendengar Nabi saw. bersabda : “Apabila malam telah datang dan siang lenyap dan matarahari telah terbenam, maka sesungguhnya telah datang waktu berbuka bagi orang yang puasa.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Perintah puasa ini diwajibkan kepada umat Islam pada tahun kedua Hijrah, yaitu tahun kedua sesudah Nabi Muhammad saw. hijrah dari Makkah ke Madinah.

“Wahai orang-orang yang beriman. Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa.” (QS. Al Baqarah : 183)

Puasa termasuk salah satu rukun Islam yang lima. Hukumnya fardhu ‘ain atas tiap-tiap mukallaf (baligh berakal). Dengan demikian siapa yang melakukan sesuatu yang membatalkan puasa Ramadhan tanpa uzur (alasan yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan), berarti dia telah melakukan dosa yang sangat besar.

Berkaitan dengan hukum puasa (wajib) ini tentunya ada syaratnya. Diantara syarat wajib puasa adalah :

1) Berakal, orang gila tidak wajib berpuasa;

2) Balig, anak yang belum balig tidak diwajibkan untuk berpuasa, seperti sabda Rasulullah saw. : “Tiga orang terlepas dari pada hukum : a) orang yang sedang tidur sehingga ia bangun; b) orang gila sampai ia sembuh; c) anak-anak sampai balig.” (HR. Abu Daud dan Nasai);

3) Kuat berpuasa, orang yang tidak kuat karena sudah tua atau sakit, tidak wajib atasnya puasa. Firman Allah swt :

“Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu, dan pembeda (antara yang haq dan yang bathil). Karena itu, siapa diantara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah. Dan siapa yang sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka wajib menggantinya, sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-NYA yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.” (QS. Al Baqarah : 185)

Dan diantarara syarat sahnya puasa adalah :

1) Islam. Orang yang bukan Islam tidak sah puasanya;

2) Mumayiz, (mengerti membedakan yang baik dengan yang tidak baik);

3) Suci dari darah haidh (kotoran) dan nifas. Orang yang haidh dan yang nifas tidak sah berpuasa, tetapi keduanya wajib mengqadha puasa yang ditinggalkannya tersebut.

Dari ‘Aisyah, katanya : “Kami disuruh oleh Rasulullah saw. mengqadha puasa, dan tidak disuruhnya untuk mengqadha sholat.” (HR. Bukhari)

4) Dalam waktu yang diperbolehkan untuk puasa padanya. Terlarang puasa pada dua hari raya dan hari Tasyriq (tanggal 11 sd 13 bulan Dzulhijah).

Sab Rasulullah saw. : Dari Anas : “Bahwasanya Nabi saw. telah melarang berpuasa lima hari dalam satu tahun : a) hari raya Idul Fitri; b) hari raya Idul Adha; c) tiga hari Tasyriq.” (HR. Daruquthni)

Berkaitan dengan syarat-syarat tersebut di atas maka puasa  :

1. wajib bagi setiap muslim, balig, berakal, mukim, mampu, tidak terdapat penghalang seperti haid dan nifas (bagi wanita);

2. Anak kecil yang berumur 7 tahun belajar dibiasakan untuk berpuasa jika kuat dan mampu. Sebagian ulama menyebutkan bahwa yang berumur lebih dari sepuluh tahun dipukul jika meninggalkannya sebagaimana halnya shalat;

3. Jika orang kafir masuk Islam, anak kecil menjadi balig, orang gila sembuh pada Ramadhan, maka mereka diharuskan menahan diri dari apa-apa yang membatalkan puasa sampai berbuka, tetapi tidak diharuskan mengganti puasa hari itu dan hari-hari sebelumnya;

4. Orang gila tidak diwajibkan berpuasa. Jika sesekali sadar kemudian kumat lagi, dia harus berpuasa saat sadarnya, sama halnya dengan orang yang pingsan.

5. Bagi orang muslim yang meninggal di pertengahan bulan Ramadhan, tidak ada kewajiban bagi keluarganya meneruskan puasa dari yang meninggal tersebut.

6. Siapa yang tidak tahu hukum wajibnya puasa Ramadhan, atau tidak tahu haramnya makan atau berjima (bersetubuh) di siang Ramadhan, Jumhur Ulama (kebanyakan ulama) menganggapnya sebagai uzur, itu pun bila sebab kebodohan/ketidaktahuannya memang dapat dimaklumi (tinggal di pedalaman misalnya). Adapun orang yang tinggal di tengah-tengah kaum muslimin dan sangat mungkin baginya bertanya dan belajar, maka tidak ada uzur baginya.

Puasa bagi musafir (orang yang bepergian)

1. Syarat untuk dapat berbuka puasa ketika safar (bepergian) adalah perjalanannya haruslah perjalanan jauh atau urf (dinilai oleh keumuman masyarakatnya sebagai safar) dan telah melampaui negerinya serta bangunan-bangunannya. Safarnya/bepergiannya pun bukan diniatkan untuk maksiat (menurut Jumhur Ulama) dan bukan dimaksudkan untuk menghindari berpuasa.

2. Orang yang sedang safar (bepergian), boleh berbuka dengan kesepakatan umat. Baik ia mampu berpuasa ataupun tidak. Baik puasa memberatkan baginya ataupun tidak.

3. Siapa yang berazam ingin bersafar pada bulan Ramadhan, tidak boleh berniat untuk berbuka hingga mulai bersafar. Tidak pula berbuka (membatalkan puasanya) kecuali setelah keluar atau meninggalkan daerah atau wilayah tempat tinggalnya.

4. Jika matahari tenggelam dan berbuka di daratan, kemudian pesawat lepas landas (take off) sehingga melihat matahari, dia tidak diharuskan imsak (berpuasa), karena dia telah menyempurnakan puasanya hari itu.

5. Siapa yang sampai ke suatu negeri dan berniat tinggal di tempat itu lebih dari 4 hari, wajib baginya berpuasa menurut Jumhur Ulama.

6. Siapa yang memulai puasa dan dia mukim, kemudian bersafar di siang hari, boleh baginya berbuka.

7. Boleh berbuka bagi mereka yang kebiasaannya melakukan perjalanan jika memiliki negeri yang dijadikan tempat tinggal tetap, seperti: petugas pos, supir mobil sewa, awak pesawat dan para pegawai. Sekalipun safar (perjalanan) mereka setiap hari. Wajib bagi mereka mengqodho (mengganti puasa yang ditinggal). Demikian pula para pelaut yang memiliki tempat tinggal di darat.

8. Jika musafir tiba di tempat tujuan siang hari, lebih terjaga jika dia imsak (menahan diri untuk tidak melakukan hal-hal yang dilarang ketika berpuasa) sebagai penghormatan terhadap bulan Ramadhan. Tetapi wajib baginya mengqodho (mengganti), baik ia imsak ataupun tidak.

9. Jika mulai puasa di negerinya, kemudian bersafar ke negeri lain yang puasanya dimulai sebelum atau sesudahnya, maka hukumnya mengikuti negeri yang dia datangi.

Puasa bagi orang yang sakit

1. Setiap penyakit yang menyebabkan seseorang keluar dari batas sehat boleh berbuka puasa. Adapun sesuatu yang ringan seperti pilek atau sakit kepala, tidak boleh berbuka karenanya. Jika menurut dokter atau dia mengetahui dan amat yakin jika berpuasa justru akan menyebabkan sakit atau memperparah penyakitnya atau menunda kesembuhan penyakitnya, boleh baginya berbuka, bahkan makruh baginya berpuasa

2. Jika puasa dapat menyebabkan pingsan, boleh berbuka dan wajib menggantinya. Jika tersadar sebelum matahari tenggelam atau setelahnya, maka puasanya sah jika pagi harinya dia berpuasa. Jika pingsannya sejak fajar sampai magrib, Jumhur Ulama berpendapat puasanya tidak sah. Sedangkan qodho (mengganti puasa) bagi yang pingsan, menurut Jumhur Ulama adalah wajib, sekalipun pingsannya berlangsung lama.

3. Bila lapar dan haus yang sangat membuatnya kelelahan dan dikhawatirkan dapat membinasakan atau merusak indranya secara yakin, bukan wahm (dugaan), maka boleh berbuka, dan ia harus mengganti puasanya. Pekerja berat tidak boleh berbuka, kecuali jika puasa memudaratkan aktifitasnya dan dikhawatirkan akan membahayakan dirinya, ia boleh berbuka dan mengganti puasanya. Ujian sekolah bukanlah uzur yang dibolehkan untuk berbuka.

4. Penyakit yang dapat sembuh, ditunggu kesembuhannya kemudian mengqhodo (mengganti puasanya). Tidak boleh diganti dengan ith’âm (memberi makan). Bila penyakitnya kronis dan sulit sembuh, demikian pula orang tua yang sudah lemah, mengganti puasanya dengan memberi makan orang miskin setiap harinya setengah sho’ (kurang lebih 1-1,5 kg ) dari makanan pokok negerinya.

5. Siapa yang sakit kemudian sembuh dan mampu berpuasa tetapi tidak mengqodho (mengganti puasa yang tertinggal semasa sakit) hingga meninggal dunia, menggantinya dengan memberi makan satu orang miskin dari hari yang tidak dipuasainya yang dikeluarkan dari hartanya. Jika salah seorang dari keluarganya berkenan berpuasa untuknya hal itu sah.

Keutamaan puasa

Di antara keutamaan puasa ialah ibadah puasa ini merupakan suatu ibadah yang Allah khususkan untuk diri-Nya sendiri dan Dia-lah (Allah) yang langsung mengganjarnya, sehingga pahala puasa tak terhitung lipat gandanya, doa orang yang berpuasa tidak ditolak, orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan, puasa memberi syafaat pada pengamalnya di hari kiamat, bau mulut orang yang berpuasa lebih baik di sisi Allah daripada bau minyak misk, puasa adalah tameng dan benteng yang kuat dari api neraka, siapa yang puasa sehari dijalan Allah, akan Allah jauhkan wajahnya dengan sehari itu dari api neraka sejauh 70 tahun. Serta di surga ada pintu yang dinamakan dengan ar-Royyan yang tidak dimasuki selain orang yang puasa.

Puasa Ramadhan adalah salah satu rukun Islam. Al-Quran Diturunkan pada bulan ini, padanya terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan. Jika masuk bulan Ramadhan dibukalah pintu surga dan ditutuplah pintu neraka, setan-setan dibelenggu dan puasa di bulan ini menyamai puasa selama sepuluh bulan.

Faedah puasa

Pada puasa terdapat banyak hikmah dan faedah yang kesemuanya berporos pada takwa. Puasa menundukkan setan, memecah hawa nafsu, menjaga anggota tubuh, mendidik keinginan untuk menjauhi hawa nafsu dan kemaksiatan, membiasakan taat pada peraturan, menepati janji dan mempertunjukkan persatuan umat Islam.

Adab puasa

Ada yang wajib dan ada pula yang mustahab (disukai). Diantaranya:

  • Makan sahur dan mengakhirkannya.
  • Menyegerakan berbuka, sebagaimana sabda Rasulullah -shalallah alaihi wasalam-,

لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ

“Manusia senantiasa dalam keadaan baik selama menyegerakan berbuka puasa.”

[HR. Al-Bukhari no. 1957, Muslim no.2608, at-Turmudzi no.703]

Nabi shalallahu alaihi wasalam berbuka dengan buah kurma muda sebelum shalat magrib, jika tidak ada dengan kurma masak, jika tidak ada beliau minum beberapa teguk air, dan berkata setelah iftornya:

(( ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ ))

“Hilang rasa dahaga, urat-urat kembali basah dan pahala ditetapkan dengan kehendak Allah.”

[HR. Abu Dawud no.2357, an-Nasai 1/66, al-Hâkim 1/422 dan dihasankan oleh al-Albani dalam Irwa al-Ghalil]

  • Menjauhi rofast, yaitu perbuatan maksiat.

    Di antara yang menghilangkan pahala kebaikan dan mendatangkan kejelekan adalah menyibukkan diri dengan permainan puzzles (game), menonton sinetron, film, lomba-lomba, menghadiri majelis sia-sia dan duduk-duduk (nongkrong) di jalan.

  • Hendaknya tidak memperbanyak makan. Sebagaimana hadits:

(( مَا مَلأَ ابْنُ آدَمَ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ ))

“Tidak ada wadah yang diisi penuh oleh anak Adam yang lebih buruk daripada perutnya.”

[HR. Ahmad 17649]

Bersedekah dengan ilmu, harta, kedudukan, tenaga dan akhlak. Nabi shalallah alaihi wasalam adalah orang yang paling dermawan dengan kebaikan, terlebih lagi di bulan Ramadhan.

Sumber bacaan :

1. Rasjid, Sulaiman H, “Fiqh Islam.”

2. Shaleh al Munajid, Muhammad, “Tujuh Puluh Masalah Seputar Puasa” http://www.islamhouse.com



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: