Oleh: 88anang | Agustus 2, 2010

Mengenal sedikit Agraria yuk

Kata cacah jiwa, penduduk Indonesia yang jumlahnya 250 juta lebih ini, 60 persennya sumber penghidupannya adalah olah tanam atau bertani. Ini hal yang logis karena memang alam negeri ini sangat subur. Saking suburnya, tongkat ditancapkan ke tanah pun bisa tumbuh jadi tanaman – kata lagunya Koes Plus lho. Nah, saking banyaknya kaum petani maka tak heran kalau negeri ini dijuluki sebagai negara agraris.
Kalau negara agraris, mestinya pembangunan bidang pertanian lebih ditekankan agar kehidupan para petani menjadi semakin sejahtera. Kenyataannya ? Banyak petani tapi hanya sebagai buruh tani karena mereka tidak punya lahan untuk diolah. Produksi padi meningkat tapi dibarengi dengan semakin membludaknya beras impor. Subsidi pupuk kepada petani dikurangi dan jumlahnya dibatasi. Ekstensifikasi lahan digalakkan, disisi lain banyak lahan pertanian yang produktif berubah fungsi menjadi perumahan, lokasi industri, ataupun jalan infrastruktur lain (jalan tol). (lho kok nglantur kemana-mana ya. Katanya mau kenalan dengan agraria)
Baiklah kita mulai saja. Kata atau istilah agraria ini menurut beritanya sih, berasal dari bahasa Latin ‘ager’ yang artinya : 1) lapangan; 2) pedusunan (ini lawan dari perkotaan); 3) wilayah; tanah negara. Kembaran dari kata/istilah ‘ager’ ini adalah kata ‘agger’ (huruf g nya dobel) yang mempunyai arti : 1) tanggul penahan/pelindung; 2) pematang; 3) tanggul sungai; 4) jalan tambak; 5) reruntuhan tanah; 6) bukit. Karena dahulu bangsa Romawi sebagai si empunya bahasa Latin ‘sukanya’ berperang dengan bangsa-bangsa lain dan mengalami kemenangan, maka mau tidak mau kata/istilah ager atau agger ini ikut menyebar pula dan berubah menjadi seperti saat ini.
Nah, dari pengertian kata-kata tersebut terlihat bahwa yang tercakup dalam istilah agraria bukan hanya sekedar kata/istilah yang mengacu pada tanah ataupun lebih-lebih pertanian semata. Dari kata-kata bukit, pedusunan, atau juga wilayah jelas menunjukkan suatu arti yang lebih luas sebab di dalam kata-kata tersebut tercakup segala sesuatu yang terwadahi olehnya. Sebagai misal, dari kata pedusunan jelas kata ini menunjukkan makna suatu wilayah. Dan di dalam wilayah tersebut tentunya terwadahi pula berbagai macam tumbuhan, sungai, air, masyarakat dengan segala infrastrukturnya dan lain sebagainya.
Benar memang semua arti kata-kata tersebut memberikan tekanan yang lebih besar pada tanah justru karena tenah itu adalah tempat atau wadah bagi semuanya. Namun kalau kita tengok kehidupan di jaman dulu (Romawi kuno) konsep-konsep yang ada seperti sekarang ini, misalnya sumber daya alam, lingkungan atau yang lainya belum ada dan belum dikenal oleh sebab kegiatan manusia yang dominan pada saat itu untuk menghidupi dirinya hanya sebatas berburu ataupun bertani.
Bagaimana, sudah kenal sedikit kan ? Sementara jeda di sini dulu ya, lain waktu nyambung lagi.
Salam


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: