Oleh: 88anang | Juni 14, 2009

Perjalanan ke Tana Toraja (1)

Masjid MarosKeindahan  Tana Toraja selama ini hanya bisa saya nikmati dari media baik itu cetak maupun melalui televisi. Ingin sekali saya bisa ke sana untuk menikmati keindahannya. Keinginan itu hanya sebatas keinginan saja karena sebagai orang yang pas-pasan, modal untuk ke Toraja jelas tak terjangkau. Akhirnya kesempatan ke Toraja itu saya dapatkan di saat mengikuti program tugas belajar di Unhas.

Singkat kata, bersama dengan rekan-rekan tugas belajar segera menyusun rencana pergi ke Toraja. Berhubung dananya “cekak” perjalanan ke sana kami buat semurah dan semeriah mungkin. Untuk menghemat dana, segala keperluan akomodasi kami persiapkan dan membawa dari rumah (maksudnya tempat kos). Menurut kami pengeluaran yang paling besar hanya di kendaraan dan penginapan. Alhamdulillah untuk kendaraan kami bisa sewa dengan harga yang miring. Dan sampai disanapun kami bisa mendapatkan penginapan yang murah meriah namun representatif.

Tanggal 29 Mei 2009 kami berangkat ke Toraja. Dari Makassar perjalanan ke sana bisa ditempuh lebih kurang selama 6 sampai 7 jam. Bismillah, jam 11.15 siang kami berangkat. Perjalanan kami buat sesantai mungkin karena kami semua juga ingin menikmati pemandangan selama perjalanan. Jam 12.00 kami berhenti di Kabupaten Maros untuk menunaikan sholat Jum’at. Habis jum’atan kami lanjutkan lagi perjalanan. Kota berikutnya yang kami lalui adalah Kabupaten Pangkep (Pangkajene Kepulauan). Di sini kami berhenti sebentar untuk makan siang.

Selama perjalanan antara Makassar hingga Pangkep pemandangan banyak didominasi oleh kolam dan tambak, juga pemandangan gunung kars (terutama wilayah Kabupaten Maros). Meninggalkan Pangkep kami memasuki wilayah kabupaten Barru. Sepanjang jalan udara laut sangat terasa. Maklum, sebelah kiri jalan yang kami lalui terlihat pemandangan laut yang biru dan tenang. Alangkah indahnya. Apalagi ketika memasuki jalan di perbukitan. Indah sekali pemandangan lautnya. Meninggalkan Kabupaten Barru, kami memasuki wilayah Kabupaten Pare-pare, kota kelahiran Bapak Prof.DR. Habibi, mantan Presiden RI. Kami singgah sebentar untuk sholat ashar, takut ketinggalan karena ada rekan yang lupa tidak menjama’ sholatnya dengan sholat jum’atan tadi dan jam sudah menunjukkan pukul 16 lebih. Disamping itu juga untuk istirahat dan ganti pengemudi. Kerja Bakti dulu ah

Karena berada di teluk maka pemandangan laut yang bisa dilihat dari kota Pare-pare sangatlah eloknya. Ombaknya tenang. Namun karena sudah agak sore dan takut kemalaman, sebab kami akan singgah dulu di kampungnya rekan, maka pemandangan teluk Pare-pare hanya kami nikmati dari kendaraan saja. Rencananya saat balik nanti kami akan singgah dan menikmati sun sight di pare-pare.(sayang kami lupa dan tidak sempat mengabadikan pemandangan teluk Pare-pare). Belum lama meninggalkan Pare-pare, perjalanan kami ditemani hujan yang agak deras. Dalam hati saya berkata “sudah memasuki bulan Juni ternyata hujan masih turun juga ya. Rasanya kita patut bersyukur karena Allah masih melimpahkan kasih dan sayangNya dalam memberi rezeki berupa hujan. Alhamdulillah.”

Sampai di Pinrang dan menuju desa orang tua rekan kami, hujan bertambah deras saja. Jalanan menuju ke sana tidak begitu lebar dengan kondisi jalan yang gelap ditambah hujan yang lebat, membuat pandangan pengemudi ke depan sangat terganggu. Apalagi banyak juga jalanan yang tergenang air. Perjalanan menjadi sangat lambat. Akhirnya sampai juga kami ke rumah orang tua rekan (Pak Khamaluddin dari Dep. Kehutanan). Di sini istirahat sebentar dan rencananya sehabis isya’ perjalanan akan kami lanjutkan. Rencana tinggallah rencana karena menjelang sehabis isya’ turun hujan yang sangat-sangat lebat dan baru reda menjelang pukul 21.00 WITA. Rencana melanjutkan perjalanan kami tunda dan diputuskan menginap dulu berhubung diantara rekan-rekan tidak ada yang faham dan tahu persis kondisi jalan. Akhirnya kami menginap. Sehabis subuh perjalanan diteruskan kembali. Sesuai dengan petunjuk pak Kamal, kami akan melalui jalan pintas yang bisa langsung menuju wilayah kabupaten Enrekang. Belum begitu lama meninggalkan rumah rekan, perjalanan langsung dihadapkan pada kondisi jalan yang sangat istimewa dengan lubang di tengah jalan yang mirip kubangan membuat saya, sebagai pengemudi, merasakan seolah-olah berada di sirkuit off-road. Di tengah perjalanan off-road ini, kami jumpai truk pengangkut tiang listrik berdiri di sisi jalan dalam kondisi hampir terbalik. Karena jalanan sempit dan disisi bawah sebelah kiri truk tergeletak beberapa tiang listrik, terpaksalah kami “kerja bakti” dulu meminggirkan tiang-tiang listrik tersebut agar jalanan cukup untuk dilalui mobil. Ada untungnya juga sebelum berangkat tadi kami sarapan dulu karena energi dari sarapan bisa digunakan untuk kerja bakti. Ya, hitung-hitung amal.

Halangan yang kami jumpai belum berhenti di sini saja. Tak jauh dari tempat truk yang miring, menghadang di depan mata jalan yang terputus karena tergerus air. Lumayan juga dalamnya. Saya harus dipandu rekan (pak Mariyo dan mas Wahyu) untuk bisa melewati kubangan. Dibutuhkan pemandu karena kondisi lobangnya tidak rata. Sebagian ada yang miring. Jangan sampai nanti kendaraan terperosok pada lobang yang lebih dalam. Sukses melewati hadangan kubangan, kami jumpai kondisi jalan yang lain lagi. Bukan jalanan berlubang namun perbaikan jalan. Perbaikan jalan menjadi halangan? Ya, karena perbaikannya dengan cara menambal sekaligus meninggikan badan jalan dengan memakai semen (beton) yang tebalnya minta ampun. Tebalnya lebih kurang 50 cm. Posisi bagian yang ditinggikanpun seperti zig zag. Beberapa meter di sisi sebelah kiri, selang beberapa meter di depannya sisi sebelah kanan yang ditinggikan. Betul-betul membuat saya yang mengemudi harus ekstra hati-hati. Belum lagi lebar jalan beton hanya pas untuk satu kendaraan kecil. Apalagi ketika menemui jalan yang menanjak dan langsung membelok. Adrenalin seolah-olah dipompa dengan kompresor bertekanan tinggi. Akhirnya dengan perjuangan yang begitu berat ketemu juga dengan jalan yang halus. Jalan trans Sulawesi. Alhamdulillah, bisa agak santai sebentar. Bukit

Nampaknya saya tidak boleh santai karena jalanan di depan menanjak dan melewati perbukitan yang, otomatis, berbelok dan naik turun. Terpaksalah konsentrasi lagi. Biar bisa konsentrasi dan tidak mengantuk, kami berhenti sebentar untuk sekedar ngopi dan memberi kesempatan bagi rekan yang ingin buang air. Kasihan menahan buang air selama ber off-road ria tadi. Dari pinggir jalan tempat berhenti, kami bisa mengambil gambar bukit di sebelahnya. Cukup indah. Subhanallah. Allah memang Maha Kuasa dan Maha Besar. Nampaknya saya harus berhenti dulu dan dilanjutkan postingan berikutnya.

Anggota perjalanan :

  1. Bapak Heru Widodo;
  2. Bapak Sumariyo;
  3. Bapak Hendra Permana;
  4. Bapak Bambang Nugroho;
  5. Mas Hidayatullah;
  6. Mas Wahyu PA;
  7. serta saya sendiri.    

Responses

  1. Benarlah kisah toraja ini memang seperti ekspedisi south sulawesi, dengan off roadnya.
    Maklum PNS biasanya perjalanan dinas di tanggung negara sekarang ditanggung sendiri jadi bener-bener pas-pasan.
    Untuk rekan-rekan yang terlibat semua salam pisss men…..
    Kayaknya akan lebih hebat lagi kalo kita rencanakan ekspedisi laut sulsel. Dengan mancing bersama di pulau tanpa kita bawa bekal, jadi kalo ga dapat ikan ya ga makan…hehehe pasti seru tuh…..terkenang-kenang sampai pulang nanti kita lepas studi deh.

    Untuk Pa Anang mantap mentong.
    Thanks.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: