Oleh: 88anang | Mei 16, 2009

Akhirnya jadi (datang) juga deklarasi.

Setelah menunggu-nunggu akhirnya jadi juga. Penantian itu sekarang telaksana. Berharap dengan cemas jadi-nggak, jadi-nggak, …… Ah, ternyata jadi juga. Syukurlah, begitu kata hati. Ini yang pantas. Yang lain menimpali. Tapi, lho kok susunannya seperti itu. Ndak bisa ini. Keluar aja kalau begitu. Kata hati seberang. Oke lah kalau begitu. Namun saya minta ini dan itu. Sebagai kompensasi kekecewaan. Baik. Nanti saya pertimbangkan. Semuanya puas. Puas? Nanti dulu. Masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Saatnya mari kita bergerak dengan cepat, karena ……
Begitulah sepenggal cerita di panggung “perpolitikan” bangsa yang namanya Indonesia. Panggung yang diwarnai dan dihiasi aktor dan aktris yang “agak” berbakat. Sebagai negarawan dihayati dan dimaknai serta diperankan seolah-olah sebagai penguasa. Sebagai pemimpin yang bertanggung jawab diperankan dengan suka main ping pong dan cari kambing yang warna bulunya hitam (suka menyalahkan orang lagi). Pemimpin yang sederhana diperankan dengan pertunjukan kemegahan (yang orang tak tahu dari mana uang diperoleh). Itulah panggung sandiwara bangsa ini, bangsa Indonesia. Bangsa yang sedang mencari pimpinan dengan harapan bisa mengeluarkan dari keterhimpitan dan keterpurukan ternyata menemukan “calon-calon” pemimpin yang selalu lain dibibir lain dihati. Alangkah malangnya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: